Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Februari 2017

Jujur dan Benar Adalah Akhlak Muslim

Jujur dan benar adalah akhlak muslim yang mulia. Seorang muslim wajib jujur dan benar dalam perkataan dan perbuatannya. Kejujuran dan kebenaran adalah bagian dari kesempurnaan iman seorang muslim. Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (QS. At-Taubah:119). 

Kejujuran dalam ucapan dan perbuatan merupakan jalan menuju kebaikan dan kebaikan itu adalah jalan menuju ke surga. Sabda Nabi SAW, "Hendaklah kamu berbuat jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke surga, tidak henti-hentinya seorang berlaku jujur dan memilih jujur sampai dicatat disisi Allah sebagai orang yang jujur. Hindarilah dusta, karena dusta itu sungguh menunjukkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa menunjukkan ke neraka. Dan seseorang tidak henti-hentinya berdusta dan memilih dusta, sehingga dicatat disisi Allah sebagai pendusta." (HR. Muslim [2607]).

Buah dari kejujuran adalah:


1. Leganya hati dan tenangnya jiwa. Sabda Rasulullah SAW "Tinggalkan apa yang meragukanmu, karena jujur itu adalah ketenangan, sedang dusta adalah keragu-raguan." (HR. At-Tirmidzi [2518]).

2. Usahanya mendapatkan barokah dan tambahan kebaikan. Sabda Rasulullah SAW, "Dua orang jual beli berhak menentukan selagi belum berpisah, jika berpisah dan jujur serta saling terus terang, maka diberkahi bagi keduanya di dalam jual belinya. Jika keduanya menyembunyikan dan berdusta, maka dihapus barokah jual belinya." (HR. Al-Bukhari [6079]).

3. Kebahagiaan setingkat para syuhada. Sabda Rasulullah SAW, "Siapa yang memohon kepada Allah untuk mati syahid dengan jujur (benar), maka Allah menyampaikannya pada (kedudukan) orang-orang yang mati syahid, meskipun mati di atas ranjangnya." (HR. Muslim [1909]).

4. Selamat dari bencana yang tidak disukai

Tanda-tanda (ciri-ciri) Kejujuran adalah:


1. Berkata benar. Seorang muslim yang jujur tidak akan membicarakan selain kebenaran dan kejujuran.  

2. Jujur di dalam bekerja. Seorang muslim yang jujur akan selalu bekerja bersama orang lain dengan dilandasi kejujuran dan tidak akan melakukan penipuan dan bersumpah palsu yang akan merugikan orang lain.

3. Jujur dan sungguh-sungguh dalam berkemauan. Seorang yang memiliki niat kuat untuk mencapai tujuannya dengan cara istiqamah dan tanpa ragu-ragu sehingga dapat mencapai tujuannya dengan sempurna.  

4. Jujur di dalam ikatan janji. Seorang muslim yang jujur tidak akan menyalahi janji yang telah diikrarkan.

5. Jujur di dalam penampilan. Seorang muslim yang jujur akan menampilkan sesuai dengan kondisinya, tidak akan menampilkan dan memaksakan sesuatu yang bukan miliknya.














Selasa, 21 Februari 2017

Kedermawanan adalah Akhlak Muslim

Kedermawanan merupakan akhlak mulia, ciri akhlak Muslim. Sebaliknya kikir dan bakhil merupakan akhlak tercela, dan bukan ciri akhlak muslim, yang sumbernya dari jiwa yang kotor dan hati yang gelap. Manusia tidak akan dapat menghindari penyakit hati berupa kikir kecuali seorang muslim dengan iman dan amal shalihnya menjadikan jiwanya bersih yang mampu menghapus sifat kikir dan bakhil. 
https://goo.gl/8FUmkx

Manusia diciptakaan Allah SWT memiliki sifat kikir dan manusia tidak bisa menghindarinya kecuali orang muslim yang beriman dan beramal shaleh. Seorang muslim dengan iman dan amal shalehnya seperti zakat dan shalat mampu menghindarkan diri dari penyakit kikir dan Allah senantiasa menjaga orang-orang beriman kepada Nya dari penyakit hati ini dan memberikan kebahagiaan dan keberuntungan di akherat.  Allah SWT berfirman "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)" (QS. Al-Ma'arij:19-25).  


Seorang muslim yang dermawan, melalui zakat, dibersihkan dan dijaga Allah SWT dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta bendanya. dan Melalu zakat pula, Allah SWT akan menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hatinya dan memperkembangkan harta bendanya. "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS.At-Taubah: 103) 


Allah SWT pasti menjamin bagi orang muslim yang dermawan terbebas dari penyakit kikir dan akan mendapat kebahagiaan dan keberuntungan di akherat. "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung" (QS. Al-Hasyr: 9). 

Untuk menumbuhkan akhlak dermawan pada diri seorang muslim, maka diperlukan usaha melalui pendidikan dan latihan. Seorang muslim harus memahami dan mengkaji sumber-sumber syariat Islam sebagai pedoman hidupnya yaitu al-Qur'an dan Hadits Nabi SAW. 

Perintah Allah SWT kepada orang-orang beriman yang harus dikaji dan direnungkan untuk menumbuhkan akhlak kedermawanan, di antara adalah:

 "Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh" (QS. A-Munafiqun: 9-10).  

"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa." (QS. Al-Lail: 5-11). 

"Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."(QS.Al-Hadid: 10). 

"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)." (QS. Al-Baqarah: 272). 

Kemudian Hadits Nabi SAW, yang perlu dikaji dan direnungkan dalam menumbuhkan akhlak kedermawanan adalah: 

"Sesungguhnya Allah Maha Pemurah, mencintai kemurahan dan mencintai akhlak mulia serta membenci akhlak yang rendah." (HR. At-Thabrani, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim)

"Tidak boleh iri kecuali pada dua perkara: Orang yang dikaruniai Allah harta kemudian membelanjaka di dalam kebenaran (mengalahkan perasaan kikirnya), dan orang yang dikaruniai hikmah, kemudian dia mengamalkan dan mengajarkannya." (HR. Bukhari [73])

"Siapa dari kalian yang lebih menyukai harta ahli warisnya daripada harta sendiri? Para sahabat bertanya, "Duhai Rasulullah tidak ada seorang pun dari kami yang lebih suka, kecuali pada hartanya sendiri." Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya hartanya adala yang telah diberikan (sedekahkan) dan yang tersisa (terakhir) adalah harta ahli warisnya." (HR. Bukhari [6442])

"Takutlah terhadap api neraka walau dengan (bersedekah) sebelah kurma." (HR. Al-Bukhari [1417])

"Tidaklah (hidup) para hamba di tiap pagi hari kecuali ada dua malaikat yang turun, salah satunya mengatakan, "Ya Allah berilah pengganti bagi yang berinfaq." dan yang lain berkata, " Ya Allah berilah kepada orang yang pelit kebangkrutan." (HR. Al-Bukhari [1442]).

"Takutlah dari kikir karena sesungguhnya kikir telah menghancurkan (umat) sebelum kamu, yang membawa mereka kepada pertumpahan darah dan menghalalkan keharaman mereka." (HR. Muslim [2578]).

"Siapa yang bersedekah senilai sebiji kurma dari usaha yang baik, sedang Allah tidak menerima kecuali yang baik, maka Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya, sebagaimana salah seorang dari kamu mengembangkan modalnya, sampai menjadi seperti gunung." (HR. Al-Bukhari [1410] dan Muslim [1014])



Referensi:

Syeikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Pedoman Hidup Seorang Muslim. Jakarta: PT Megatama Sofwa Pressindo, hal.261-263








Jumat, 17 Februari 2017

Malu Bagian dari Iman

Malu merupakan salah satu akhlak seorang muslim yang menjadi pedoman dalam hidupnya dan malu merupakan bagian dari iman. Rasulullah bersabda: 
(الحياء  شعبة من الايمان (رواه البخاري ومسلم
"Malu termasuk cabang dari iman" (HR. Bukhari dan Muslim).

Seorang muslim yang beriman menjadikan malu sebagai pedoman dalam hidupnya. Malu tidak bisa dilepaskan dengan iman seseorang, sebaliknya iman tidak bisa dilepaskan dari akhlak malu seseorang. Keduanya adalah selalu bersamaan, saling berkaitan dan menyatu. Jika seseorang terlepas rasa malu, maka sesungguhnya terlepas pula imannya, dan jika seseorang terlepas imannya, maka sesungguhnya terlepas pula rasa malu dalam dirinya. Hal ini  didasarkan pada hadist Nabi yang artinya: "Rasa malu dan iman keduanya selalu bersamaan, maka jika salah satunya diangkat, terangkatlah yang lainnya.". (HR. Al-Hikam). Seorang muslim yang memiliki rasa malu akan senantiasa terdorong untuk melakukan kebaikan, dan tidak akan melakukan perbuatan yang merusak atau kemungkaran. Sebagaimana Sabda Rasulullah "Malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan " (HR. Bukhari dan Muslim) dan malu adalah kebaikan seluruhnya (HR. Muslim). 

Akhlak malu pada diri seorang muslim akan memotivasi seseorang muslim untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Malu dapat membimbing kepada kebajikan seorang muslim. Malu dapat mencegah seorang muslim untuk berbuat maksiat, untuk berbuat keji, bicara kotor, berbuat kasar dan kejam pada sesama. Malu dapat mencegan seorang muslim untuk melakukan korupsi, dan mengambil hak-hak orang lain, atau berbuat sekehendak hati. Akhlak malu dapat mewujudkan bagi kehidupan masyarakat yang tentram dan damai. 

Namun malu bukanlah menjadi penghalang seorang muslim untuk menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Akhlak malu pada seorang muslim akan memotivasinya untuk menuntut ilmu agama sebagai jalan beribadah kepada Allah SWT sesuai dengan yang disyariatkan Nya, bukan beribadah kepada Allah dengan kebodohan. Oleh karena itu malu belajar agama, malu mengaji al-qur'an, malu menyampaikan kebenaran, malu memakmurkan Mushalla atau Masjid, malu shalat berjamaah di Mushalla atau di Masjid bersama kaum muslimin, malu mencari nafkah, malu mengakui kesalahannya, malu memakai busana muslimah, adalah bukan malu yang disyariatkan, karena malu yang demikian sesungguhnya adalah ketidakmampuan dan kelemahan dalam melakukan kebaikan. Ketidakmampuan diri seseorang melakukan kebaikan berarti iman dia berkurang, karena malu itu bagian dari iman, malu itu sesungguhnya mendatangkan kebaikan, sedang iman itu menghimpun seluruh kebaikan. 

Jadi akhlak malu seorang muslim berupa malu kepada manusia dan malu kepada Allah SWT. Seorang muslim malu kepada manusia, maka ia tidak akan membuka atau mempertontonkan auratnya dihadapan orang lain, tidak akan mengurangi kewajibannya kepada orang lain, tidak mengingkari kebaikan yang diberikan orang lain, tidak mencelah dan berkata kotor kepada orang lain, tidak mengambil hak-hak orang lain, tidak korupsi. Dan malu kepada Allah, seorang muslim akan selalu mentaati segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, dan mensyukuri atas segala nikmat-Nya. Untuk memahami apa yang diperintahkan-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya, serta bagaiman cara mensyukuri nikmat-Nya yaitu dengan jalan mempelajari dan mendalami ajaran agama Islam. Sebagaimana nasehat Ibnu Mas'ud "Malulah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu, jagalah kepala dan yang ditangkapnya, perut dan apa yang dikandungnya, ingatlah kematian dan perubahannya menjadi tanda setelah kematiannya". Rasulullah SAW bersabda:" Maka Allahlah yang lebih berhak untuk merasa malu terhadap-Nya daripada manusia." (HR. Bukhari, [Abu Daud:4017, At-Tirmidzi:2794])     



Rabu, 15 Februari 2017

Perintah untuk Berbuat Sebaik-baiknya (Ihsan) dalam Agama Islam

Berbuat sebaik-baiknya dalam konsep Islam disebut “ihsan”. Ihsan merupakan salah satu dari tiga pilar bangunan agama Islam yaitu iman, Islam dan ihsan. Sebagai seorang muslim maka berkewajiban untuk melakukan perbuatan sebaik-baiknya sebagai akhlak yang utama.

https://goo.gl/RVR5pO
https://goo.gl/RVR5pO
Perintah untuk berbuat sebaik-baiknya didasarkan pada firman Allah SWT “Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah: 195). “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan” (QS. An-Nahl: 90). “Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” (QS. Al-Baqarah: 83). “Dan berbuat baiklah kepada kedua ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu” (QS. An-Nisa’: 36).
Perintah ihsan ini juga didasarkan pada sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah SWT mewajibkan berbuat baik pada segala sesuatu, maka jika membunuh, bunuhlah sebaik-baiknya, jika menyembelih buatlah yang baik dalam menyembelih, haruslah seorang mengasah mata pedangnya dan membuat nyaman hewan sembelihan.” (HR. Muslim [1955]).

Dari perintah ihsan di atas, maka berbuat ihsan mencakup ihsan dalam beribadah dan bermuamalah.
Berbuat ihsan dalam beribadah meliputi ibadah shalat, puasa, haji, zakat, dan ibadah lainnya dengan cara sebaik-baiknya sesuai dengan syarat, rukun, sunah dan adabnya. Untuk dapat menjalankan ibadah secara ihsan, Rasulullah SAW telah memberikan bimbingan sebagaimana dalam sabda beliau ketika ditanya para sahabat tentang ihsan, Rasulullah menjawab: “Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka (ketahuilah) bahwa Ia melihat engkau.” (HR. Muslim dalam kitab Hadits Arba’in Nawawi).


Berbuat ihsan dalam pergaulan muamalah adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, sanak kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, pembantu, segenap manusia, hewan dan dalam segala kegiatan usaha seperti bekerja sebaik-baiknya, dan berkarya dengan sempurna.

Sebagai seoarang muslim wajib untuk berbuat sebaik-baiknya kepada kedua orangtuanya, tidak menyakitinya, mendoakan keduanya, dan meminta ampun kepada Allah (istighfar) untuk kedua orangtuanya, dan menunaikan amanahnya, serta menghormati dan memuliakan teman-teman orang tuanya.

Seorang muslim berkewajiban untuk senantiasa berbuat sebaik-baiknya kepada sanak kerabat yang dapat diwujudkan, antara lain, memberikan kasih sayangnya kepad mereka, membantunya dalam bentuk apapun (pikiran dan materi) untuk meringankan segala kesulitan yang dihadapi mereka. Seorang muslim tidak boleh berbuat sesuatu baik berupa perkataan, tindakan dan sikap yang mendatangkan kesulitan, kesedihan, dan gangguan dalam kehidupan mereka.
Seorang muslim berkewajiban berbuat sebaik-baiknya kepada anak-anak yatim, antara lain, menjaga harta mereka, melindungi hak-hak mereka, mengusap-usap kepala mereka, mendidik dan membahagiakan mereka.  Sebaliknya, tidak membentak mereka yang membuat mereka takut dan sedih.


Bersambung…………………………………..